
Ai didorong masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan alat kimia yang biasanya dia gunakan di laboratorium sebelumnya. Letaknya semuanya sama persis dengan yang sebelumnya dia pakai.
"Sekarang mulailah membuat penawarnya," kata Gin. "Kami membutuhkannya dengan cepat. Kau juga membutuhkannya, 'kan?"
Ai hanya diam sambil menatap tajam pada pria berbaju hitam itu.
"Semua data yang kau perlukan ada di komputer. Sebaiknya cepat karena tempat ini juga tidak akan bertahan lama bila diserbu oleh 'mereka'."
Pintu kemudian ditutup dan dikunci rapat. Tak ada jalan keluar lain lagi. Lubang ventilasi juga tidak muat untuk dilewati tubuh Ai. Kalaupun berhasil keluar, letaknya jauh dari lokasi teman-temannya sekarang.
"Setidaknya aku bisa mulai membuat penawarnya," gumam Ai sambil mengenakan pakaian lab. "Seharusnya sampel obatnya ada di penyimpanan."
Dia mencari sebentar lemari penyimpanan. Begitu ketemu, dia langsung segera ke sana dan mencari sampel yang dia cari. Di dalam lemari, dia menemukan banyak sekali tabung berisi sampel obat. Tapi, dia tidak butuh waktu lama untuk mencari mana yang dia cari karena sudah diberi label pada setiap sampelnya. Selain itu, yang sampel yang dia cari itu disimpan di dalam kotak yang tertutup rapat.
Dia mengenakan sarung tangan karet dan mengambil sampel yang dia perlukan. APTX 4869. Tanpa buang waktu lagi, Ai membuka data pada komputer dan membacanya sebentar. Setelah itu, dia pun mulai membuat penawarnya.
Sampel demi sampel dari penawar yang dibuatnya diujikan pada virus kanibalisme itu. Namun, hasilnya belum ada yang seperti diharapkan. Sementara itu waktu terus berjalan.
Saking seriusnya, tidak terasa pagi sudah tiba. Salah satu anggota Organisasi Hitam mengantarkan makanan untuk Ai. Setelah orang itu pergi, Gin datang untuk memantau hasil kerja Ai.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Gin dengan nada dinginnya.
"Belum ada yang berhasil," jawab Ai tidak kalah dingin. "Membuat penawarnya lebih sulit dari yang kukira. Dan aku juga mulai berpikir, virus yang kita miliki sudah berbeda dengan yang ada di tubuh para korbannya. Setelah kuteliti tadi, ada kemungkinan bisa bermutasi. Jadi, aku butuh sampel darah salah satu makhluk kanibal itu."
"Itu saja?"
"Untuk saat ini hanya itu."
Setelah itu Gin keluar dari laboratorium.
Ai menghela nafas. Dia sangat tegang bila bertemu dengan pria ubanan itu. Ditambah dengan tatapan membunuhnya yang tidak pernah lepas dari matanya.
Ai memakan makanan yang tadi diantarkan. Perut pun perlu diisi agar bisa berpikir. Kalau diingat-ingat, apa yang dimakannya saat bersama Conan dan lainnya benar-benar apa adanya. Bahkan kenyang pun tidak. Belum lagi kejar-kejaran dan bertarungnya yang hampir tidak ada habisnya. Aktifitas dan apa yang dimakan sama sekali tidak seimbang. Tapi, tanpa terlihat lelah, semuanya berjuang hingga sekarang.
Ai jadi penasaran, apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini? Ada satu firasat yang dirasanya benar. Mereka berencana menyelamatkannya.
"Semoga mereka tidak sebodoh itu. Terutama... Conan," harapnya. Dia jadi terbayang wajah Conan yang meneriakinya saat dirinya dibawa pergi oleh Gin.
Apa dia sepeduli itu?
~Black Virus~
"Berhenti bertindak sembrono, Conan!" bentak Kaito. Dia berusaha menahan Conan yang mau pergi. "Kita ini baru saja bisa lolos dari para kanibal itu yang menyerang dari tempat persembunyian sebelumnya yang datang karena keributan yang terjadi. Bisakah kita istirahat dulu sekalian membuat rencana?"
"Tapi, Ai harus kita selamatkan secepatnya!" ucap Conan lantang. "Aku tidak bisa mempercayai organisasi itu. Mereka pasti akan membunuhnya bila sudah mendapatkan penawarnya."
"Kalau begitu, kau tahu di mana mereka berada sekarang?" tanya Kaito.
Conan terdiam. Dia sama sekali tidak tahu.
"Sudah kuduga kalau kau pasti tidak tahu," kata Kaito. "Kuperingatkan, kalau kau sampai mati karena sok tahu atau mencoba mencarinya di tengah kota berisi makhluk kelaparan pemakan manusia itu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya lagi. Aku saja hampir tidak lolos kalau saja tidak mendapatkan keberuntungan dulu."
Conan semakin terdiam.
"Bersabarlah, Conan. Mereka pasti tidak akan melakukannya secepat itu karena membuat penawarnya tidak mungkin kurang dari semalam, 'kan?" bujuk Ran.
Conan menunduk sebentar. Dan akhirnya dia pun duduk dengan tenang. Yang lain menghela nafas lega.
"Oi, Kaito, kau bilang akan membuat rencana. Memangnya kau punya informasi mengenai organisasi itu yang ada di kota ini?" tanya Shinichi.
Kaito memandang langit-langit ruangan yang merupakan ruang perlindungan bawah tanah yang ditemukan secara tidak sengaja saat tengah kabur dari kejaran massa para makhluk kanibal tadi. Ruangan yang tidak cukup luas, tapi sangat membantu dalam persembunyian.
"Sebenarnya Organisasi Hitam tidak memiliki markas cabang di sini. Melainkan hanya seperti 'toko cabang'. Markasnya berada di kota sebelah yang setidaknya butuh waktu sejam untuk sampai di sana dengan kendaraan sambil ngebut kalau tidak ada halangan. Tapi, melihat kondisi tempat ini yang sekarang, kurasa bisa lebih dari sehari bagi kita untuk sampai di sana," jelas Kaito. Dia menengok ke arah Conan. "Itu sebabnya aku bilang jangan sembrono, Conan."
Conan tidak bereaksi.
"Padahal kita sudah hampir sampai ke tempat aman. Ternyata kejadian seperti ini malah terjadi," keluh Shinichi.
"Tapi, biarpun sampai di sana juga... pasti tidak akan berguna kalau ternyata data-data yang diperlukan untuk membuat obat tidak ada," ujar Ran.
"Benar juga," sahut Shinichi. "Aku melupakan hal itu."
Tiba-tiba semua perut mereka berbunyi nyaring. Rasa lapar akhirnya melanda juga.
Shinichi melihat arlojinya. Pukul 10 pagi. Sudah jauh dari waktunya sarapan. Malah hampir waktunya makan siang.
"Kita benar-benar pengelana yang apes," umpatnya.
Ran mencoba memeriksa lemari-lemari yang berada di ruangan persembunyian mereka. Tapi, yang dia temukan semuanya makanan mentah. Tidak ada yang bisa dimakan langsung. Dia berbalik dan menggeleng pada teman-temannya.
"Kaito, kau 'kan bisa memunculkan banyak benda. Apa kau bisa memunculkan makanan?" tanya Shinichi.
"Tentu saja tidak. Semua yang kubawa berupa benda, bukan makanan," jawab Kaito. "Aku sama sekali tidak menyangka kita akan berakhir seperti ini."
Conan tiba-tiba berdiri. "Aku akan keluar dan mencari makanan."
"Tapi, Conan, di luar masih sangat ramai oleh para monster itu. Kau bisa terluka bila keluar sendirian," cegah Ran.
"Kupastikan itu tidak akan terjadi karena aku masih punya misi lain. Lagipula, kalau kalian ikut, kalian juga bisa celaka karena kekurangan tenaga akibat lapar. Sementara aku berbeda. Aku masih punya banyak tenaga. Tubuhku sudah sangat terlatih untuk kondisi apa pun."
Conan kemudian pergi tanpa ada yang menghalangi lagi karena semua teman-temannya tertegun.
"Misi lain?" Shinichi menatap bingung.
"Menyelamatkan Ai, ya?" duga Ran sambil tersenyum. "Biarpun belum pernah mengatakannya, kurasa Conan sudah menganggap Ai orang yang penting untuknya."
"Kita tidak akan tahu itu benar atau tidak kalau dia sendiri masih belum mengerti perasaan apa yang sebenarnya dia rasakan," kata Kaito sambil berbaring.
~Black Virus~
Ai melangkah mundur dengan kecewa. Obatnya tetap belum ada yang berhasil mengatasi virus awal. Dia berpikir keras untuk mencari apa yang salah sehingga tidak ada bisa memusnahkan virus itu. Setidaknya bisa mengurangi efeknya saja sudah merupakan kemajuan, tapi sama sekali tidak ada yang seperti itu juga.
Terdengar kunci pintu dibuka. Lalu, Gin membuka pintu itu dan masuk. Dia membawa tabung berisi darah. Diletakkannya tabung itu di atas meja.
"Itu yang kau minta," ucapnya datar. "Sebaiknya ini benar-benar membantu."
Setelah itu Gin keluar begitu saja dan kembali mengunci pintu.
Ai mengambil tabung berisi darah tersebut. Darahnya terlihat masih segar.
"Cepat sekali kerjanya," kagum Ai. Dia segera kembali bekerja untuk meneliti darah tersebut.
Begitu selesai diperiksa, gadis itu terkejut dengan hasilnya. Virusnya sudah jauh berbeda dengan virus awal. Dia mendecih kesal. Kalau begitu hasilnya, itu artinya data yang sekarang tidak ada gunanya. Mencari penawar untuk virus awal saja tidak ada yang berhasil, bagaimana dengan yang sudah berubah?
Ai tertunduk kecewa. Sangat kecewa. Dia merasa mustahil untuk bisa menemukan penawarnya sebelum virusnya berubah lagi.
Bagaimana ini? Bagaimana?
Ai semakin tertunduk.
Conan...
~Black Virus~
Conan berhenti berlari. Dia merasa mendengar suara Ai yang memanggil. Tangannya semakin terkepal kuat.
Ai...
~Black Virus~
Jarum jam terus bergerak. Ai memperhatikan dengan wajah yang sudah lusuh karena kurang istirahat. Sekarang sudah 3 hari berlalu. Tapi, belum ada perkembangan sama sekali. Dia sudah hampir putus asa. Gin pun semakin terlihat seram setiap kali dia datang untuk memantau pekerjaan. Dia ingin segera bisa mendapatkan penawar karena semakin banyak anggota yang mulai berubah karena terkena serangan.
Ai memukul meja dengan keras. Tidak peduli rasa sakit yang timbul. Dia benar-benar merasa tidak berdaya sekarang.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Semua yang kulakukan, tidak ada yang berhasil. Tapi, aku tidak boleh berhenti," gumamnya.
Dia berjalan ke lemari penyimpanan bahan-bahan obat. Dia mengambil tabung-tabung berisi bahan-bahan yang diperlukannya. Lalu, mulai membuat lagi. Setiap obat yang selesai, segera diujikan. Namun, masih saja gagal terus.
"Mungkin data yang disimpan Kakak bisa membantu," gumamnya.
Dia memeriksa data-data hasil penelitian kakaknya dan membacanya dengan teliti. Sampai dia menemukan folder dengan tulisan "Don't". Dia membuka folder itu yang berisi folder lain yang bertuliskan "Open". Dibuka lagi, isinya folder lagi begitu seterusnya hingga setiap tulisan dalam folder itu membentuk kalimat "Don't open or you will be tricked".
Ai mematung untuk beberapa saat. Bisa-bisanya kakaknya itu membuat lelucon seperti itu pada lokasi data penting. Tapi, rasa penasarannya jauh lebih besar. Dia membuka folder bertulisan "Tricked" dan menemukan pesan yang bertuliskan:
"SUDAH KUBILANG JANGAN DIBUKA! SEKARANG KENA, 'KAN, TIPUANNYA? HAHAHAHAHAHA! XD"
Ai lebih terdiam lagi. Benar-benar tipuan.
Ai ingin menutup pesan itu, namun batal setelah menyadari ada tulisan yang berubah warna saat terkena kursor mouse. Dia menggeser lagi kursornya pada setiap huruf pada tulisan tersebut hingga berhenti pada tanda "!" terkahir.
Dia mengklik tanda itu dan terbukalah file berisikan hasil penelitian yang ternyata merupakan obat yang disembunyikan di dalam CPU. Obat itu ternyata bukan cuma untuk membuat penggunanya kuat, tapi bisa juga dijadikan obat untuk melawan bakteri dan virus berbahaya dalam tubuh walaupun tidak semua jenis virus dan bakteri bisa mempan.
Ai segera saja membuat obat yang sama dengan yang dituliskan dalam file itu. Tidak butuh waktu lama karena bahan-bahannya sudah ada di dalam lemari penyimpanan. Tinggal mencampurkan sesuai takaran. Setelah itu, dia ujikan pada sampel darah milik makhluk kanibal baru yang tadi pagi diantarkan oleh Gin.
Dia melihat reaksinya dari mikroskop. Virus-virusnya mulai hilang sedikit demi sedikit dan akhirnya lenyap tanpa sisa.
"Ini dia penawarnya," ucapnya senang.
Namun, kesenangannya lenyap saat mendengar dentuman keras di luar ruang kerjanya disertai suara jeritan kesakitan banyak orang. Ai termundur dengan wajah pucat. Dia bisa menduga kalau itu artinya para makhluk kanibal sudah berhasil masuk.
Dia mendengar derap langkah mendekat. Lalu, disusul pintunya dipukul-pukul dengan keras hingga penyok. Padahal itu pintu baja. Karena dipukul terus, pintu itu pun akhirnya lepas. Di baliknya berdiri sosok makhluk kanibal berbadan besar seperti yang muncul di markas sebelumnya. Makhluk itu melihat Ai dan berlari menyerangnya. Ai segera menghindar ke sisi lain ruangan. Serangan makhluk itu pun mengenai komputer dan peralatan kimia yang ada di atas meja. Menghancurkan semuanya sampai berceceran ke mana-mana.
Makhluk itu bergerak menghadap ke Ai yang sudah terpojok. Tak ada yang bisa Ai lakukan untuk melawannya karena senjata pun tidak punya. Dia hanya bisa melempari makhluk itu dengan benda-benda yang bisa diraihnya. Tentu saja tidak ada yang mempan. Makhluk itu malah semakin marah. Dia sampai melempar meja yang ada di tengah ruangan dengan keras dan hampir mengenai Ai kalau tidak segera menunduk menghindar. Meja tersebut hancur dan serpihannya mengenai Ai.
Makhluk itu semakin dekat. Tangannya mulai bergerak untuk meraih Ai. Akan tetapi, seseorang muncul dari belakang dan menendang keras makhluk itu ke samping dengan tendangan di udara hingga dinding pun jebol.
Ai tertegun karena orang yang muncul itu adalah Conan yang penampilannya sudah cukup acak-acakan karena bertarung. Conan menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas. "Maaf kalau terlalu lama."
"Tidak apa-apa. Yang penting kau datang tepat waktu," jawab Ai sambil tersenyum.
Conan malah terdiam setelah itu.
"Kau kenapa?" tanya Ai yang heran karena tiba-tiba saja Conan diam seperti itu sambil menatapnya.
"Bukan apa-apa," jawab Conan cepat. "Kita pergi sekarang." Dia menarik tangan Ai dan berlari keluar melewati lubang di dinding yang terbentuk karena hantaman makhluk kanibal yang kini tidak lagi bergerak.
Di luar sudah sangat kacau. Banyak makhluk kanibal yang sudah memangsa di sana-sini. Ai dan Conan terus berlari hingga keluar dari bangunan. Sesekali Conan menembak para makhluk kanibal yang mendekat. Kaito yang juga sedang menghadapi beberapa makhluk kanibal, berlari menyusul Conan dan Ai yang melewatinya.
"Syukurlah kau masih selamat, Ai," kata Kaito.
"Maaf sudah membuat cemas," sahut Ai.
Suara ledakan terdengar dari belakang. Ai menoleh. Dia melihat Gin yang berwajah sudah sangat mengerikan karena dia sudah sangat marah.
"Bawa Ai ke mobil! Aku akan menahannya!" seru Conan pada Kaito yang langsung mendorong Ai pada pemuda itu.
"Apa- Conan! Jangan!" pekik Ai.
Tanpa banyak tanya, Kaito menarik Ai menuju mobil di mana Shinichi dan Ran sudah menunggu sambil melawan para makhluk kanibal yang terus berdatangan.
"Cepat masuk!" seru Shinichi.
Ai didorong masuk ke dalam mobil. Ran dan Shinichi menyusul masuk ke dalam mobil. Shinichi langsung saja menyalakan mobil.
"Kaito, cepat masuk!" seru Shinichi yang melihat Kaito belum juga masuk ke dalam mobil.
"Ah, Conan!" Ran melihat Conan yang kini sedang bertarung sengit melawan Gin. Mereka bertarung dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh dari manusia biasa.
Kaito tidak tahan diam saja melihat Conan yang bertarung sendiri. Dia mengeluarkan geranat dan melemparkannya pada Gin di saat Conan sedang jauh dari pria itu. Geranat meledak tepat di tempat Gin berdiri. Api pun tersulut dan membesar di sana.
"Conan, ayo!" seru Kaito.
Conan berlari secepat mungkin ke mobil dan segera masuk ke bagian belakang mobil. Lalu, disusul Kaito yang langsung menutup pintu.
Shinichi pun menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju cepat meninggalkan markas Organisasi Hitam yang terbakar karena terkena api yang timbul dari hasil ledakan geranat lemparan Kaito tadi.
Para makhluk kanibal sempat mengejar mereka, tapi hanya sebentar karena Shinichi benar-benar ngebut dengan kecepatan lebih dari 100 km per jam. Akhirnya mereka pun lolos.
~Black Virus~
Gin muncul agak jauh dari bangunan markas yang sudah terbakar seluruhnya. Baik rekan-rekannya maupun para monster pemakan manusia itu, terbakar di dalamnya.
"Kakak!" Pria berbadan gemuk yang juga bersetelan hitam seperti dirinya, Vodka, muncul dari balik semak-semak di belakang. "Apa yang terjadi? Kenapa begitu ribut-" Dia terkejut saat melihat bangunan markas Organisasi yang sudah terbakar.
Gin hanya diam. Matanya secara tidak sengaja melihat selongsong peluru yang tergeletak tak jauh darinya. Dia mengambil selongsong itu dan memeriksanya. Sekilas tidak beda jauh dengan selongsong peluru pada umumnya. Hanya saja dia bisa melihat ada perbedaan dengan selongsong yang satu itu.
"Kuroba...," desisnya.
Selongsong itu diremasnya dengan kuat. Dari celah tangannya kemudian turun semacam butiran pasir berwarna sama dengan selongsong peluru itu.
"Kita pergi!" titah Gin sambil melangkah memasuki semak-semak. Vodka segera menyusulnya.
~Black Virus~
Shinichi merem mobil yang dikendarainya setelah tiba di pinggir sebuah lapangan luas yang jauh dari daerah perkotaan. Tak ada lagi para makhluk kanibal yang mengikuti mereka. Semua penumpang kemudian keluar dari mobil. Ran keluar sambil menghela nafas lega. Dia terlihat sangat lelah.
"Ini perjalanan tertegang yang pernah kualami," gumamnya.
Ai berjalan agak jauh ke depan mobil. Jauh di ujung jalan sana, dia bisa melihat dinding tinggi. Itu dinding perbatasan untuk memasuki wilayah Osaka. Seharusnya dinding itu tidak ada. Tapi, karena sekarang sedang mengalami pandemik, dinding itu dinaikkan untuk mencegah orang-orang luar, terutama yang terinfeksi, masuk begitu saja. Mereka pastinya akan menjalani pemeriksaan terlebih dahulu saat mau masuk agar memastikan tidak menginfeksi penduduk di sana.
"Jadi, Ai, bagaimana hasil penelitianmu selama di sana?" tanya Conan ketika tiba di sebelah Ai.
"Aku sudah menemukan penawarnya," jawab Ai penuh percaya diri.
Conan tercengang. "Benarkah?"
"Ya, sayangnya sampelnya dan juga datanya sudah dihancurkan saat labku diserang monster tadi," jawab Ai. Tapi, dengan wajah sangat tenang.
Conan menatap tidak percaya. "Tapi, wajahmu menunjukkan tidak merasa kehilangan sama sekali."
"Memang," sahut Ai.
"Kalau begitu di mana obatnya sekarang?" tanya Conan, sedikit menuntut.
Ai menyeringai. Kedua tangannya memegang wajah Conan. "Kau mau tahu?"
Conan langsung agak mundur begitu Ai bertindak aneh seperti itu. Ai tiba-tiba menciumnya singkat, lalu berbisik, "Kaulah obatnya. Ada di dalam tubuhmu."
Setelah itu Ai kembali ke mobil sambil tersenyum riang. Sementara Conan mematung di tempat dengan wajah yang merah padam. Kaito berusaha menahan tawa saat melihat reaksi adiknya itu. Sedangkan Ran dan Shinichi hanya terkekeh pelan.
*-*
CONAN edisi pertama, End.
No comments:
Post a Comment