Tuesday, 26 April 2016

CONAN, Act 10 : The Antidote



Ai didorong masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan alat kimia yang biasanya dia gunakan di laboratorium sebelumnya. Letaknya semuanya sama persis dengan yang sebelumnya dia pakai.

"Sekarang mulailah membuat penawarnya," kata Gin. "Kami membutuhkannya dengan cepat. Kau juga membutuhkannya,­ 'kan?"

Ai hanya diam sambil menatap tajam pada pria berbaju hitam itu.

"Semua data yang kau perlukan ada di komputer. Sebaiknya cepat karena tempat ini juga tidak akan bertahan lama bila diserbu oleh 'mereka'."

Pintu kemudian ditutup dan dikunci rapat. Tak ada jalan keluar lain lagi. Lubang ventilasi juga tidak muat untuk dilewati tubuh Ai. Kalaupun berhasil keluar, letaknya jauh dari lokasi teman-temannya sekarang.

"Setidaknya aku bisa mulai membuat penawarnya," gumam Ai sambil mengenakan pakaian lab. "Seharusnya sampel obatnya ada di penyimpanan."

Dia mencari sebentar lemari penyimpanan. Begitu ketemu, dia langsung segera ke sana dan mencari sampel yang dia cari. Di dalam lemari, dia menemukan banyak sekali tabung berisi sampel obat. Tapi, dia tidak butuh waktu lama untuk mencari mana yang dia cari karena sudah diberi label pada setiap sampelnya. Selain itu, yang sampel yang dia cari itu disimpan di dalam kotak yang tertutup rapat.

Dia mengenakan sarung tangan karet dan mengambil sampel yang dia perlukan. APTX 4869. Tanpa buang waktu lagi, Ai membuka data pada komputer dan membacanya sebentar. Setelah itu, dia pun mulai membuat penawarnya.

Sampel demi sampel dari penawar yang dibuatnya diujikan pada virus kanibalisme itu. Namun, hasilnya belum ada yang seperti diharapkan. Sementara itu waktu terus berjalan.

Saking seriusnya, tidak terasa pagi sudah tiba. Salah satu anggota Organisasi Hitam mengantarkan makanan untuk Ai. Setelah orang itu pergi, Gin datang untuk memantau hasil kerja Ai.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Gin dengan nada dinginnya.

"Belum ada yang berhasil," jawab Ai tidak kalah dingin. "Membuat penawarnya lebih sulit dari yang kukira. Dan aku juga mulai berpikir, virus yang kita miliki sudah berbeda dengan yang ada di tubuh para korbannya. Setelah kuteliti tadi, ada kemungkinan bisa bermutasi. Jadi, aku butuh sampel darah salah satu makhluk kanibal itu."

Saturday, 23 April 2016

CONAN, Act 9: The Man

Suara tembakan menggema di mana-mana. Banyak mayat dari sosok makhluk kanibal yang terbaring tak bernyawa di sepanjang jalan. Ada juga mayat dari para manusia yang dijadikan mangsa mereka. Conan dan kawan-kawan terus berlari sambil menembus kepungan para makhluk kanibal yang terus berdatangan tanpa henti.

Kaito berhenti. Dia mengeluarkan sebuah granat yang entah dari bagian mana tubuhnya, mencabut kunci pengamannya dan melemparnya ke belakang di mana para makhluk kanibal sedang mengejar mereka. Ledakan besar menghempaskan para makhluk yang hanya dikuasai oleh rasa lapar mereka.

Kaito kembali berlari menyusul teman-temannya yang sudah agak jauh dan kembali menembak para makhluk kanibal yang bermunculan dari gedung-gedung kosong di sampingnya.

Conan yang berada paling depan terus menembak monster-monster­ kelaparan yang bermunculan di depan. Sesekali dia melancarkan serangan fisik yang kemudian disusul dengan tembakan. Ai, Ran, dan Shinichi juga berusaha semampu mereka untuk mencegah para makhluk kanibal mendekati mereka.

"Mereka tidak ada habisnya," keluh Ran. Dia mulai tampak kelelahan karena terus berlari sejak dari stasiun tadi sambil menangani para makhluk kanibal yang mengejar mereka.

Ai, Shinichi, dan Kaito juga terlihat sama kelelahannya. Cuma Conan yang dirasa masih punya banyak tenaga karena dia masih bisa melawan monster-monster­ itu dengan kekuatan penuh. Semenjak dia diberikan obat oleh Ai di markas Organisasi, tenaganya jadi bertambah berkali-kali lipat. Biarpun memang menguntungkanny­a dalam kondisi sekarang, tetap saja dia merasa suatu saat nanti akan merasakan efek sebenarnya dari obat itu.

Conan mempercepat larinya, lalu dengan sekuatnya dia menendang salah satu makhluk kanibal yang menampakkan diri di hadapannya dengan tendangan di udara. Makhluk itu terlempar menghantam kawanannya yang berada di belakangnya. Lalu, dia menembak mereka hingga semuanya tidak ada yang bergerak.

Wajahnya semakin mengeras. Dia sudah semakin tidak tahan dengan para makhluk kanibal yang sebenarnya masih bisa kembali menjadi manusia itu.

Menjelang malam, serangan mereda. Tapi, bukan berarti sudah berhenti. Kelihatannya para makhluk kanibal di tempat mereka berada sedang tidak ada. Jadi, mereka bisa istirahat sebentar. Sebuah gedung yang kelihatannya merupakan sebuah kantor swasta surat kabar menjadi tempat peristirahatan mereka. Gedung itu masih terlihat bagus. Pintu dan jendelanya masih utuh biarpun bagian dalamnya cukup berantakan. Mungkin dikarenakan para pegawainya terburu-buru pergi meninggalkan tempat mereka saat penyerangan terjadi. Dan ketika serangan para makhluk kanibal lewat, mereka semua sudah tidak ada di dalam gedung itu sehingga tidak dimasuki oleh makhluk-makhluk­ itu. Terbukti dengan tidak ditemukannya jejak darah atau serangan di sana.

"Tidak buruk untuk dijadikan tempat istirahat," komentar Ai. Nadanya terdengar agak sarkastik. Dia pun terlihat kurang suka dengan kondisi bangunan itu.

Conan, Kaito, dan Shinichi mencoba mengganjal pintu dan jendela agar tidak mudah diterobos dengan beberapa lemari dan meja. Untuk lemari yang terbuat dari besi dan besar yang bahkan 3 orang belum tentu dapat memindahkannya,­ Conan yang memindahkannya.­ Untunglah Ran tidak melihatnya karena dia dan Ai sedang mempersiapkan tempat untuk tidur. Kalau tidak, dia akan mematung dan menganga melihat seorang remaja 13 tahunan mengangkat sebuah lemari besi besar. Itu kata Shinichi.

Setelah dirasa cukup banyak barang yang digunakan untuk menahan pintu dan jendela, mereka bertiga pergi ke tempat Ai dan Ran berada di lantai 2. Para gadis sudah selesai membersihkan tempat mereka. Ada beberapa makanan dan beberapa botol minuman yang mereka temukan di dapur kantor. Sebatang lilin dijadikan penerangan di ruangan itu. Mereka tidak ingin menarik perhatian lebih dengan membuat ruangan terlalu terang.

Mereka kemudian menyantap makanan yang ada. Setelah itu, mereka semua diam tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam dalam keheningan. Ketika lilin sudah terbakar semua hingga padam, mereka semua sudah terlelap karena sangat kelelahan.

CONAN, Act 8: The Rest

Conan kembali dari gerbong belakang setelah mengganti pakaian dengan yang diberikan oleh Kaito. Dia tidak tahu bagaimana kakaknya itu bisa membawa baju padahal sejak tadi seperti tidak bawa apa-apa. Kecuali senjatanya.

Dia berjalan melewati tempat duduk Ai. Gadis itu sedang menatap harddisk yang diambil dari markas Organisasi Hitam.

"Ada masalah dengan itu?" tanya Conan yang menyadarkan Ai dari lamunannya.

Ai menatap Conan sebentar, lalu kembali menatap harddisk-nya. "Ya," jawabnya. "Rasanya saat mengambil harddisk ini, terlalu mudah. Bisa kuambil begitu saja. Padahal kalau menyangkut informasi, Organisasi tidak pernah berbuat lengah seberapa pun bahayanya kondisi di markas. Mereka tidak mungkin membiarkan informasi penting yang mereka miliki bocor keluar sedikit pun."

"Maksudmu, kau ragu kalau harddisk itu tidak berisi informasi yang kita cari?"

"Ya. Aku sudah lama berada di bagian internal bersama kakakku. Jadi, aku lebih mengenal seperti apa sifat orang-orang inti Organisasi. Aku yakin mereka tidak akan pernah meninggalkan informasi penting seperti ini."

Conan bergerak duduk di sebelah Ai. "Kalau begitu, itu artinya perjuangan kita sia-sia saja saat di markas tadi. Padahal aku sampai dihajar babak belur oleh monster aneh itu."

Ai langsung menahan tawanya setelah mendengarnya.

"Apanya yang lucu?" Conan merasa tersinggung.

"Lucu saja," jawab Ai. "Itu artinya kau saat itu memang sedang apes."

Conan semakin menatap kesal ke arah gadis pirang itu.

"Wuaah... Kalian terlihat mesra, ya." Kaito yang duduk di kursi depan memasang wajah jahil sambil senyum-senyum melihat Conan dan Ai. "Padahal masih kecil, tapi sudah mesra, ya..."

Suara tembakan langsung menggema. Shinichi dan Ran sampai kaget sekali mendengarnya. Kaito yang masih menghadap ke belakang, berwajah pucat karena peluru dari tembakan barusan melesat di samping wajahnya dan terus sampai melubangi dinding kereta di belakangnya. Dan tembakan tersebut berasal dari Conan yang berwajah semakin kusut saja.

"Itu sengaja kumelesetkan," kata Conan, menyimpan kembali pistolnya. "Berani membuatku bad mood lagi, aku akan benar-benar membidikkan ke kepalamu, Kak."

Kaito kemudian berbalik dengan air mata bercucuran. "Adikku yang dulu imut dan manis, kini menjadi sangat dingin dan galak..."

Ai menatap heran ke arah Conan. "Hei, tadi itu bahaya sekali," tegurnya.

"Peduli amat," ucap Conan cuek.

"Tapi, ngomong-ngomong­, kau sudah menganggap Kaito benar-benar kakakmu?" tanya Ai. "Kau tadi 'kan bilang kalau tidak begitu ingat masa kecilmu."

"Setidaknya aku tahu siapa yang jujur dan siapa yang bohong. Aku 'kan sudah sering bertemu orang-orang munafik, pembohong, pembual, dan sekutunya saat menjadi petarung dulu. Jadi, aku bisa membedakannya biarpun dia bertopeng sekalipun."

Ai menatap ke depan. "Berarti Kaito jujur, ya. Jarang-jarang ketemu pria jujur seperti itu." Lalu, dia kembali menatap Conan. "Dan juga... bakatmu membaca orang itu hebat sekali. Aku jadi ingin mengetesnya."

Conan melirik bingung. "Hah?"

"Kalau begitu... coba tebak, apakah ucapanku ini bohong atau tidak?" tantang Ai.

"Memang ada untungnya buatku?" Conan kembali bersikap cuek.

"Tentu saja ada. Tapi, tidak sekarang karena aku tidak membawa barang yang pantas menjadi hadiah saat ini," jawab Ai.

Conan melirik sebentar. "Terserah kau saja."

"Baiklah, aku mulai." Ai memasang wajah serius. "Aku... mencintaimu."

Saturday, 16 April 2016

CONAN, Act 7: The Train

Conan mengambil Sky Board dari bagasi mobil VW Profesor Agasa. Lalu, dia dan Ai menaiki papan seluncur melayang itu pergi dari stadion. Ai yang berdiri di belakang Conan, memeluk erat pinggang Conan karena Sky Board melaju dengan cepat.


Pagi sudah menjelang saat mereka pergi. Sepanjang perjalanan, tak ada lagi orang yang terlihat di kota. Sepi. Tentu semua sudah tampak seperti kota mati yang mengerikan dengan banyak noda merah di mana-mana.

"Kita akan ke mana, Conan?" tanya Ai.

"Kita akan coba ke stasiun kereta," jawab Conan. "Cuma itu kendaraan tercepat dan termudah yang bisa kita temui sekarang ini. Memang tidak akan sampai ke Osaka, tapi bisa mencapai daerah dekat perbatasan. Dari situ, kita cari cara lain untuk mencapai Osaka."

"Kenapa tidak naik pesawat saja? Kurasa masih ada pesawat yang ditinggalkan di bandara."

"Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak tahu cara mengendarainya.­ Aku belum mempelajarinya.­"

"Hmm... Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali menaiki pesawat."

"Maaf, ya. Aku bukan pilot. Kenapa kau tidak ikut penduduk saja semalam? Kau bisa naik pesawat saat itu."

"Bukannya aku sudah mengatakan alasannya?"

"Baiklah..."

Keduanya terdiam untuk beberapa saat sampai Conan kembali membuka pembicaraan.

"Ngomong-ngomon­g, aku baru sadar kalau sekarang kau memanggilku dengan nama 'Conan'. Bukan 'C-1' lagi."

Ai memalingkan wajahnya. "Tidak ada alasan khusus," jawabnya ketus.

"Baiklah, aku tidak memaksa," ujar Conan.

Perjalanan menuju stasiun kereta begitu tenang tanpa ada halangan satu pun walaupun kota sudah mirip kota mati. Hanya suara angin yang terdengar. Para makhluk kanibal juga tidak terlihat di mana pun, tapi Conan masih dapat merasakan keberadaan mereka di beberapa bangunan.

Pelukan Ai terasa begitu erat di pinggang Conan. Entah kapan terakhir kali dia dipeluk erat seperti itu. Dia sudah tidak ingat. Tidak ingat sama sekali...

"Conan~"

Conan tersentak. Kenapa mendadak terlintas sebuah suara di kepalanya?

"Conan jadi adikku, ya?"

Suara itu... terdengar seperti suara seorang anak laki-laki yang masih kecil. Mungkin berusia 10 tahunan. Tapi, itu suara siapa?

"Lihat, lihat, Conan. Kakak sudah bisa melakukan trik yang sulit."

Siapa? Siapa?

"Conan! Awas!" seru Ai tiba-tiba.

Conan langsung tersadar dari lamunannya dan menghindari mobil yang hampir saja dia tabrak. Ai menghela nafas lega, tapi juga merasa kesal pada pemuda yang sudah tidak lagi berkacamata itu.

"Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh kita?" bentak Ai.

"Maaf, aku melamun," ucap Conan dengan nada datar. Sama sekali tidak terdengar menyesal di telinga Ai.

"Kita berhenti dulu saja sebentar daripada kau membuat kita mati konyol karena menabrak," saran Ai.

"Kita sudah hampir sampai. Aku akan lebih berhati-hati."

"Sebaiknya begitu."

Suara-suara aneh itu terus terlintas di kepalanya. Suara yang rasanya sangat dikenalnya. Tapi, siapa?

~Black Virus~

Perlahan laju Sky Board diturunkan. Conan dan Ai sudah tiba di depan gerbang masuk stasiun kereta. Mereka berdua turun dari Sky Board. Lalu, melangkah masuk dengan hati-hati sambil mengawasi sekitar. Stasiun kereta juga tampak sepi dengan sampah yang bertebaran di mana-mana.

"Sama sekali tidak ada orang," ujar Ai. "Seperti tempat lainnya."

Mereka terus berjalan. Kemudian menuruni tangga. Mereka dapat melihat ada kereta yang kelihatannya masih utuh di bawah sana. Di ujung tangga, Conan dapat merasakan ada seseorang yang bersembunyi di balik dinding yang berada tepat di samping tangga. Dia pun menyiapkan pistolnya. Ai tidak berkomentar melihat tindakan Conan itu.

Ketika tinggal beberapa anak tangga lagi, Conan langsung melesat turun sambil membidikkan pistolnya ke balik dinding. Seorang pemuda SMU yang berada di balik dinding itu langsung tidak berkutik. Di tangannya ada sebuah tongkat yang siap diayunkan, tapi tidak jadi. Namun, Conan tahu siapa itu.

CONAN, Act 6: The Stadium

Conan, Ai, dan Profesor Agasa berjalan keluar dari lokasi markas Organisasi Hitam yang sudah terbakar akibat rudal yang diluncurkan oleh orang yang tak dikenal tadi. Mereka menaiki mobil dan pergi dari tempat itu.


Tak ada yang bicara. Awan tebal sudah tidak lagi terlihat. Hari pun sudah mulai sore. Saat melewati kota, tak ada lagi yang terlihat berkeliaran, baik manusia ataupun makhluk kanibal. Sepi dan sunyi. Hanya kerusakan yang ditinggalkan.

"Ke mana semuanya?" tanya Profesor Agasa.

"Aku juga tidak tahu," jawab Conan.

"Kurasa semua makhluk kanibal itu telah pergi karena kehabisan mangsa," ujar Ai.

"Secepat itu?" Profesor Agasa terlihat pucat. Bagaimana tidak pucat kalau para makhluk kanibal itu bisa menghabisi sebuah kota dalam kurang dari sehari?

"Berhenti sebentar," pinta Conan.

Mobil berhenti dan Conan segera turun. Dia berjalan mendekati sebuah bekas hangus yang tidak biasa. Begitu jelas terlihat di dinding dan masih agak hangat saat disentuh. Bau terbakarnya juga agak berbeda dari senjata pembakar pada umumnya.

"Ini bekas dari senjata apa?" gumam Conan. Baru kali ini dia melihat bekas terbakar yang tidak biasa itu.

"Ternyata kau masih di sini."

Seseorang muncul di sampingnya. Conan menoleh. Dia terkejut melihat yang datang itu adalah Shinichi.

"Kau melewatkan banyak hal," kata Shinichi. "Semua orang sudah dievakuasi dan para monster itu sudah dimusnahkan semua. Mungkin, sih. Tapi, kenapa kau dan kawananmu itu masih di sini?"

"Kami baru saja menyelesaikan urusan kecil," jawab Conan agak ketus. "Ke mana orang-orang dievakuasi?"

"Di stadion sepak bola. Karena itu merupakan tempat yang luas dan cukup jauh dari sini."

"Lalu, kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Conan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan pemuda di hadapannya itu.

"Aku? Memeriksa kembali tempat ini. Mungkin ada petunjuk yang bisa kutemukan untuk menjawab apa yang sebenarnya telah terjadi dalam sehari ini," jawab Shinichi.

"Sendirian? Berani sekali," puji Conan yang sebenarnya ingin menyindir. "Kau juga sudah pergi ke daerah sebelah utara?"

"Ya... begitulah...," jawab Shinichi dengan entengnya.

"Ternyata..." Conan menghentakkan kakinya, membuat sebuah tongkat besi kecil yang ada di dekat kakinya terpental ke atas. Dia menangkapnya dan langsung menodongkannya di leher Shinichi... palsu. "Shinichi asli tidak akan ke sana tanpa alasan. Selama ini dia hanya tahu kalau tempat itu berbahaya sebagai gosip untuk mencari perhatian."

Shinichi palsu terdiam di tempat.

"Kau... yang menembak rudal itu, 'kan?"

Shinichi palsu tersenyum tipis. "Ya, kau benar sekali, bocah," jawabnya, menyerah. "Aku yakin kau bisa kabur dari tempat itu sehingga aku tidak akan ragu menembak."

Conan memicingkan matanya karena sudah sangat marah. Dia langsung menyerang Shinichi palsu dengan tongkat besinya. Tapi, Shinichi palsu itu dapat menghindarinya dengan mudah dengan gaya seperti orang berakrobat. Shinichi palsu kemudian melompat ke atas tiang lampu dan berdiri dengan sangat seimbang.

"Kau memang sudah sangat kuat, bocah. Tapi, masih belum terkendali sepenuhnya," kata Shinichi palsu. "Lain kali kau harus lebih mengendalikan diri, ya. Sampai itu bisa kau lakukan, aku pergi dulu."

Asap muncul di bawah kaki Shinichi palsu dan menghilang tanpa jejak.

"Cih! Sial!" umpat Conan sambil membanting tongkat besinya ke aspal jalan. Dia berjalan dan masuk kembali ke mobil.

"Dia yang menembak itu?" tanya Ai.

"Ya," jawab Conan dengan nada kesal. "Sekarang kita ke stadion sepak bola. Katanya di sana orang-orang diungsikan."

"Kau percaya padanya?" tanya Profesor Agasa.

"Ya, aku bisa membedakan mana pembohong dan bukan. Aku sudah sering lihat wajah-wajah seperti itu di arena."

Mobil kembali melaju menuju stadion sepak bola yang seperti dikatakan Shinichi palsu, cukup jauh letaknya. Sepanjang perjalanan, mereka masih tidak lihat seorang pun di jalan. Bahkan hewan liar pun tidak ada. Semuanya sudah kosong. Tak ada lagi yang menghuni daerah tersebut. Noda-noda hitam terbakar juga terlihat hampir di sepanjang jalan juga. Conan bertanya-tanya senjata macam apa yang digunakan.

~Black Virus~

Pagar lapangan sepak bola terkunci dengan beberapa tentara berjaga di pintu. Ternyata memang benar stadion sepak bola dijadikan tempat pengungsian. Conan, Ai, dan Profesor Agasa harus melewati alat pendeteksi virus. Setelah dianggap bersih, mereka baru boleh dipersilahkan lewat. Kelihatannya pihak keamanan sudah tahu kalau tergigit oleh 'mereka', akan berubah juga menjadi 'mereka' layaknya menularkan virus.

Mobil diparkirkan di antara puluhan mobil lain, lalu mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam stadion. Tempat yang seharusnya dapat menampung puluhan ribu penonton itu, hanya dipenuhi tak lebih dari setengahnya. Sebagian kecil berada di tengah lapangan untuk mendapat perawatan medis.

"Sedikit sekali...," gumam Profesor Agasa.

"Kurasa tidak semuanya diungsikan ke sini," ujar Ai. "Itu 'kan mustahil. Pasti ada tempat pengungsian lain. Tempat ini hanya untuk yang selamat di sekitar tempat ini."

"Yah, kurasa kau benar. Daerah di sekitar sini tidak sepadat ibu kota," sahut Conan. "Tidak heran yang mengungsi di sini juga sedikit, apalagi penyerang juga tidaklah sedikit."

"Conan!" Suara panggilan yang sudah cukup dikenal Conan terdengar. Dia berbalik dan melihat teman-teman sekelasnya. Ayumi, gadis yang cukup perhatian. Genta, pemuda gendut yang doyan sekali makan. Dan Mitsuhiko, pemuda yang terobsesi menjadi detektif.

CONAN, Act 5: The Potion

Conan melompat-lompat­ menghidari serangan si monster. Dia sama sekali tidak bisa mendekat. Ditambah lagi, bertarung tanpa pistol benar-benar membuatnya kesulitan. Selama ini dia belum pernah bertarung tanpa pistolnya.

Ai dan Profesor Agasa hanya bisa menonton dari pinggir 'arena'. Para makhluk kanibal lain juga menonton sambil bersorak-sorak.

"Apakah Conan bisa bertahan?" gumam Profesor Agasa cemas. "Lawannya kurasa sangat tidak seimbang."

Ai diam saja. Dia juga merasa demikian. Monster yang dilawan Conan saat ini kemungkinan besar merupakan orang yang tingkat infeksinya paling tinggi. Mungkin karena dirinya telah mengkonsumsi obat-obatan lain lebih banyak dari para petarung lain sehingga membuat virusnya berkembang dengan pesat sampai tubuhnya sudah tidak terlihat lagi seperti manusia.


Conan berlari melesat ke arah si monster, hendak menyerang dengan pukulannya. Tapi, serangannya dengan mudah ditahan dengan satu tangan oleh si monster. Tangannya dicengkeram dan bocah kacamata itu dilempar menghantam tumpukan logam dengan sangat keras. Ai dan Profesor Agasa terbelalak melihatnya.

"Conan!" pekik Profesor Agasa.

Conan kembali bangun dengan nafas yang sudah tidak teratur. Pelipis kanannya mengucurkan darah. Kacamatanya pun terlepas dari wajahnya. Sorakan para makhluk kanibal lain semakin keras terdengar.

"Conan tidak bisa bertahan," ucap Profesor Agasa semakin cemas.

Ai pun merasakan hal yang sama. Dia melihat ke arah pintu yang tak mengaga lebar dan berpenjaga. Dia kemudian melihat para makhluk kanibal yang menonton tidak ada yang memperhatikanny­a ataupun Profesor Agasa. Diambilnya SMG miliknya yang tergeletak di sampingnya.

"Profesor," bisiknya.

Profesor Agasa menoleh.

"Aku akan masuk dan mengambil obat untuk di dalam sana. Dia tidak akan bisa mengalahkan monster itu dengan kondisinya sekarang."

"Tapi, bagaimana kalau dia berubah?"

"Tenang saja. Bukan virus itu yang kuberikan, tapi obat yang lain." Ai menggantung SMG-nya di pundak. "Aku pergi sekarang. Terus awasi saja pertarungan."

"Apa kau akan baik-baik saja di dalam sana?" Profesor Agasa terlihat cemas.

"Ya, aku akan baik-baik saja. Biarpun aku ini seorang ilmuan, tapi aku juga memiliki kemampuan bertarung walaupun tak sehebat C-1."

Ai berjalan mengendap-endap­ menuju pintu sambil terus mengawasi para makhluk kanibal. Jangan sampai ada yang melihat dirinya. Kelihatannya semuanya masih sibuk menonton pertarungan yang sedang berlangsung. Begitu tiba di depan pintu, dia langsung masuk ke dalam markas. Memasuki lorong yang cukup jauh menuju ruang pertama.

Penerangan di dalam markas terlihat redup karena lampu-lampu banyak yang tidak menyala dan yang menyala pun kebanyakan kedap-kedip. Air yang keluar dari pipa yang bocor, menetes dari langit-langit, membuat udara terasa lembab.

Ai terus melangkah dengan hati-hati. Biarpun kelihatannya sepi, dia yakin pasti ada makhluk kanibal yang bersembunyi. Apalagi lorong tersebut memiliki banyak cabang. Setiap belokan bisa dijadikan tempat bersembunyi.

Dinding-dinding­ lorong juga terlihat banyak bercak darah. Entah darah siapa saja yang ada di dinding itu. Baunya begitu menyengat karena sebagian besar masih baru.

Pintu di ujung lorong dimasuki. Di balik pintu itu merupakan ruang penerima tamu yang mau datang menyaksikan pertarungan. Ruangan itu gelap sehingga tidak terlihat apa-apa. Kelihatannya semua lampunya rusak. Ai semakin berhati-hati. Dia melangkah dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sambil terus mengawasi sekitarnya. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbiasa dengan kegelapan sehingga dia mulai dapat melihat. Ruangan itu tampak berantakan. Semua fasilitasnya rusak dan tak berbentuk. Padahal itu fasilitas mahal dan mewah.

Suara benda jatuh mengagetkannya.­ Suaranya begitu keras dan menggema. Jantung Ai sampai berdebar kencang. Dia pun mempercepat langkahnya karena perasaannya sudah sangat tidak enak. Kepanikannya semakin bertambah saat dia mendengar suara langkah kecil hewan yang mendekat. Dia menengok ke belakang dan terlihat dua ekor anjing botak berlari ke arahnya. Sontak Ai pun berlari menuju ke pintu di seberang ruangan.

CONAN, Act 4: The Fighting

Profesor Agasa memarkirkan mobilnya sesuai perkataan Conan. Mereka parkir di sebuah gudang dan menutupinya dengan kain terpal seperti barang-barang lainnya yang ada di situ untuk menyembunyikann­ya. Berjaga-jaga saja jangan sampai ada anggota Organisasi Hitam yang masih selamat ataupun makhluk kanibal menyerang karena tahu kedatangan mereka.

"Kau benar-benar yakin mau kembali masuk ke markas mereka?" tanya Ai. "Bisa saja markas mereka itu sudah menjadi sarang utama para makhluk itu. Ini sama saja bunuh diri, 'kan?"

Conan tidak mempedulikannya­ dia menyiapkan kembali senjatanya dan memeriksa juga alat peredam suara yang terpasang pada pistolnya.

"Cih, pura-pura tidak dengar," umpat Ai.

"Daripada kalian berkelahi, adakah yang bisa menjelaskan kenapa polisi tidak bisa menemukan markas Organisasi Hitam?" tanya Profesor Agasa, mengalihkan pembicaraan. "Padahal sudah sering dilakukan pencarian di area ini karena laporan orang hilang yang sering diterima."

"Nanti Profesor akan melihatnya sendiri saat kita tiba di pintu masuk markas. Lagipula Organisasi Hitam adalah organisasi besar. Mereka sudah memikirkan bagaimana mengatasi hal itu. Tidak mungkin 'kan mereka membuat markas di sini begitu saja," jelas Conan. Dia mengkokang pistolnya. "Kita jalan sekarang."

Mereka berjalan menelusuri gang-gang sempit di antara gudang-gudang tua yang tak lagi terpakai. Gudang-gudang itu sudah terlihat kumuh dan dipenuhi tumbuhan-tumbuh­an liar pada dindingnya. Tempat itu dulunya sebuah pabrik besar dengan banyak gudang, namun ditutup setelah terjadi kebaran besar yang menghanguskan beberapa gudang utama yang membuat pemiliknya bangkrut.

Perjalanan terasa begitu tegang karena mereka semakin dekat dengan asal kemunculan para makhluk kanibal. Tempat itu juga begitu sepi sampai suara angin terdengar jelas. Terlihat beberapa ekor hewan pengerat berlarian di antara pipa atau keluar masuk gudang melalui lubang-lubang kecil yang mereka buat. Untunglah hujan sudah mereda hingga menyisakan gerimis kecil saja.

"Tempat ini seram juga, ya," kata Profesor Agasa yang sejak tadi memperhatikan sekitarnya itu.

Conan tiba-tiba berhenti yang otomatis membuat yang lainnya juga berhenti. Dia bisa merasakan ada yang mengikuti mereka. Bergerak cepat dan bukan cuma satu. Dia mencoba mencari para penguntit itu. Beberapa kali dia melihat ada sosok bayangan yang lewat dengan sangat cepat di sekitarnya.

"Kelihatannya memang tidak mudah untuk bisa masuk sekarang kalau perjalanannya saja sudah seperti ini," kata Ai, dia mempersiapkan pistol miliknya dengan memasang peredam suara. Dia tidak menggunakan SMG-nya karena suara yang dihasilkan SMG sangatlah keras sehingga dia hanya menggantungnya di pundaknya. Gadis itu juga menyadari apa yang dirasakan Conan.

Dua makhluk kanibal muncul tiba-tiba dari atap gudang. Reflek Conan menembak mereka bersamaan dengan kedua pistolnya. Lalu, muncul lagi satu dari jendela gudang. Kali ini Ai yang menembakinya. Monster-monster­ itu terus bermunculan. Conan dan Ai terus menembaki mereka sambil bergerak untuk kabur. Mereka sadar amunisi mereka tidaklah banyak untuk menghadapi semua makhluk itu. Profesor Agasa disuruh bergerak di antara Conan dan Ai agar mereka bisa mengawalnya karena cuma Profesor Agasa yang tidak membawa senjata. Biarpun bawa, kakek itu tidak akan bisa menggunakannya dengan baik.

"Ke sini!" seru Conan sambil berbelok masuk ke dalam salah satu gudang.

Ai dan Profesor Agasa ikut masuk. Pintu pun kemudian ditutup rapat dan dikunci dengan diganjal dengan sebuah pipa patah yang ada di dekat situ. Mereka menunggu sebentar untuk melihat apakah para makhluk itu menyadari mereka bersembunyi di situ atau tidak. Setelah menunggu cukup lama, tidak terjadi apa-apa. Mereka semua bernafas lega.

Ai berbalik dan tiba-tiba salah satu makhluk kanibal muncul untuk menerkamnya. Sebuah peluru melesat di samping kepala gadis itu di saat yang hampir bersamaan dan menembus tengkorak makhluk itu sehingga rubuh tak bergerak.

CONAN, Act 3: The Love

"Sebenarnya akulah yang membuat makhluk itu jadi ada."

Antara percaya atau tidak, Conan benar-benar kaget mendengarnya. Seorang gadis yang sebaya dengannya yang membuat monster itu?

"Apa maksudnya ini?" gumam Conan. "Apa hubunganmu dengan Organisasi Hitam?"

"Aku adalah ilmuan mereka sejak 3 tahun yang lalu," jawab si gadis berambut kecoklatan itu. "Namaku Ai Haibara."

"Ilmuan?" Conan menatap tidak percaya.

"Aku menggantikan kakakku yang mereka bunuh 3 tahun lalu karena Kakak ingin berhenti dari pekerjaannya itu. Kakakku itu juga ingin melaporkan mengenai pembuatan obat ilegal dan juga pertarungan ilegal yang selama ini telah berlangsung. Tapi, rencananya itu ketahuan dan akhirnya... dibunuh." Ai menceritakannya­ dengan wajah sedih. Hampir menangis.


Akhirnya Conan bisa tahu siapa pembuat obat yang dia konsumsi selama di markas Organisasi Hitam. Sebelum 3 tahun yang lalu, dia mengkonsumsi obat kakak Ai. Sejak 3 tahun yang lalu, barulah dia mengkonsumsi obat yang dibuat Ai. Pantas saja reaksi obatnya terasa berbeda antara yang 3 tahun lalu dan yang sebelum 3 tahun yang lalu.

"Kau ini pasti salah satu petarung ilegal Organisasi, 'kan?" duga Ai.

Conan diam sesaat. "Ya, aku C-1," jawabnya.

Ai terbelalak. "C-1? Kau? Berarti kau orang yang paling beruntung karena tidak mencoba obat yang kubuat di hari kau kabur itu. Sebab obat itulah yang membuat para petarung yang mencobanya menjadi seperti sekarang. Monster kanibal."

Conan terdiam. "Kau bercanda? Obat itu?"

"Ya, obat itu," jawab Ai yakin. "Memang awalnya terlihat tidak ada keanehan selain bertambah kuat dan semacamnya. Dan itu tetap ada walaupun tidak menyuntikkan lagi obatnya. Organisasi menganggap akhirnya obat yang mereka cari berhasil ditemukan dan mereka mulai memintaku untuk memperbanyak dan selanjutnya dijual ke berbagai tempat. Aku tidak tahu ke mana saja mereka menjualnya. Tapi, setelah sebulan berlalu, efek sebenarnya akhirnya terlihat. Fisik para petarung mulai terlihat perubahan. Seluruh bulu di tubuh mereka mulai rontok, kulit memucat, dan mata mereka menjadi merah. Tingkah mereka juga mulai berubah. Mereka sering menyambar siapa pun yang lewat di dekat sel mereka. Mereka juga hampir selalu mengamuk."

Ai berhenti sejenak. Dia melihat wajah Conan serta Profesor Agasa yang begitu serius mendengarkan ceritanya.

"Akhirnya amukan mereka mencapai puncaknya semalam," lanjut Ai. "Mereka menjebol sel mereka dan menyerang semua orang yang ada di markas. Di tengah kekacauan itu, aku pun kabur." Dia mengakhiri ceritanya.

Itu obat yang mengerikan. Kalau saja obat itu berhasil disuntikkan saat berhasil kabur, Conan yakin, dia pasti sudah memangsa Profesor Agasa semalam dan saat ini dia sedang memangsa teman-temannya.

"Kenapa kau membuat obat yang seperti itu?" tanya Conan.

"Untuk membalas perbuatan Organisasi terhadap kakakku," jawab Ai. "Karena aku pasti tidak bisa membunuh mereka semua, maka aku menggunakan petarung-petaru­ng mereka itu untuk menghabisi mereka. Bukannya itu juga membantu para petarung itu untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap Organisasi yang telah mengurung mereka? Hebat bukan rencanaku itu?"

Tanpa bicara apa-apa, Conan menampar keras wajah Ai. Tamparannya mungkin terlalu kuat untuk Ai sehingga dari sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah. Pipinya juga sampai merah sekali. Ai menatap Conan yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kemarahan.

"Kau bodoh!" bentak Conan. "Kau pikir itu bagus? Kau membuat kesalahan besar dengan menjadikan para petarung sebagai budakmu yang tidak bisa kau kendalikan. Kau harus sadar, menjadi petarung Organisasi adalah dosa terbesar kami sebagai para petarung karena kami mau tidak mau harus membunuh lawan kami. Dan sekarang kau membuat para petarung tidak bisa berhenti memangsa orang-orang tidak bersalah padahal mereka sudah lama ingin berhenti melukai siapa pun!"

Ai cuma terdiam dengan mulut menganga mendengar bentakan Conan itu.

"Bukan cuma itu saja. Siapa pun yang mereka gigit dan masih hidup, akan berubah menjadi seperti mereka juga. Mereka menyebarkan virus mereka melalui gigitan. Ini bisa menjadi pandemik terparah yang pernah terjadi kalau tidak segera diatasi. Aku pun... aku pun...," Conan menatap miris pistolnya, "harus membunuh mereka bila penawarnya tidak segera diberikan pada mereka."

"Menular? Virusnya dapat menular?" Ai menatap tidak percaya.

"Kau tidak tahu?" Nada bicara Conan meninggi. "Kau tidak tahu padahal kau yang membuatnya?" Dia tersenyum sinis. "Bagus, bagus sekali." Dia kembali membentak. "Sekarang kau puas dengan apa yang kau perbuat itu, hah?"

Ai tidak berkata apa-apa. Dia terlihat sangat syok dengan kenyataan yang rupanya belum diketahuinya itu. Conan berbalik sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Kondisi cuaca yang semakin buruk, juga memperburuk suasana.

"Lalu, di mana obat penawarnya?" tanya Conan sambil menengok ke belakang, melihat Ai yang masih tertunduk syok.

Ai tetap diam saja. Conan pun menghampirinya sambil mengguncangkan tubuhnya.

"Ai, di mana obat penawarnya?" tanyanya lagi. "Kau yang membuat obat itu, jadi kau pasti tahu penawarnya. Mereka masih bisa dikembalikan menjadi manusia normal bila ada penawarnya."

Ai masih diam untuk beberapa saat. "Aku... tidak membuatnya," jawabnya ragu sambil menatap ke arah lain.

Kemarahan Conan hampir meledak saat itu. Tapi, dia berusaha untuk tidak menghajar gadis di depannya itu. Menamparnya sekali saja sudah cukup membuat dirinya juga merasa serba salah tadi karena yang di hadapannya itu adalah perempuan. Kalau saja laki-laki, mungkin sudah dia tembak saat itu juga. Tidak akan sampai terbunuh, hanya akan membuatnya sekarat saja.

"Lalu, kau masih bisa membuatnya?" tanya Conan, mencoba meredakan amarahnya.

"Ya, asalkan ada datanya yang kutinggalkan di markas Organisasi," jawab Ai.

Kesunyian langsung lewat di antara Conan dan Ai. Conan menatap terkejut luar biasa dengan apa yang didengarnya. "Datanya ada di markas?" tanyanya tak percaya.

"Ya," jawab Ai yakin.

Conan menepuk keras dahinya dan sambil bergumam tidak jelas. "Baiklah, sekarang kita ke markas mereka, ambil datanya, dan segera buat obatnya sebelum semua terlambat. Aku tidak ingin hal ini menjadi apa yang kutakutkan," katanya. Dia menarik tangan Ai untuk masuk ke mobil di mana Profesor Agasa sudah berada di mobil duluan dan menyalakan mobilnya. Ai duduk di belakang, sedangkan Conan di depan.

"Kita ke mana?" tanya Profesor Agasa.

"Kita ke daerah pinggir kota sebelah utara," jawab Conan sambil mengenakan sabuk pengaman.

Profesor Agasa terkejut. "Ke sana? Bukannya di sana daerah yang berbahaya karena banyak orang yang hilang bila ke sana?"

"Orang-orang itu hilang karena Organisasi Hitam ada di sana. Ada yang dibunuh dan ada yang dijadikan petarung. Tidak perlu heran begitu, 'kan?" jelas Conan. "Cepat jalan. Kita harus segera membuat obatnya," sambungnya yang tanpa disadarinya terdengar seperti memerintah karena emosinya sedang tidak stabil.

Mobil pun melesat di tengah hujan yang mengguyur lebih deras. Saat jalan Conan sadar kalau mobil pemadam belum datang. Ini sangat tidak biasa. Tidak mungkin para pemadam kebakaran terlambat datang sedangkan jarak markas pemadam tidak jauh dari lokasi. Conan sempat merasa tidak nyaman. Tapi, sekarang dia tidak bisa memikirkan hal itu dulu. Saat ini dia harus bisa mendapatkan data obat sehingga para makhluk kanibal itu kembali seperti semula.

Untuk menuju ke daerah pinggir kota sebelah utara, tentu harus melewati pusat kota karena letaknya berlawanan dengan daerah perumahan yang ada di sebelah selatan. Butuh 10 menit untuk mencapai pusat kota Beika. Dan hal yang tak terduga menyambut mereka di sana, membuat Profesor Agasa mengehentikan mobilnya dan para penumpangnya terbelalak.

A.A.Navis Award 2016

Mesin Tik A.A. Navis Award 2016

Program Bahasa dan Kajian Indonesia, Deakin University, Melbourne, Australia; Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang (UNP); dan Penerbit Angkasa Bandung bersama-sama melaksanakan Lomba Menulis Cerpen dan Novel 2016. Kerjasama ini unik karena melibatkan sebuah universitas internasional di Australia, sebuah universitas dan satu penerbit (anggota IKAPI) di Indonesia. Karenanya, ketiga lembaga ini menawarkan kesempatan yang unik pula. Salah satu keunikan tersebut adalah, selain memberikan hadiah uang dan sertifikat kepada pemenang, pemenang utama juga akan menerima Piagam Penghargaan Cerpen dan Novel Terbaik A.A. Navis (A.A. Navis Award). Selain itu, kumpulan cerpen (cerpen terbaik dan cerpen terpilih) dan novel terbaik akan diterbitkan oleh Penerbit Angkasa Bandung. Juga, karya yang tidak memenangkan hadaiah apa-apa mungkin ada yang dianggap layak untuk ditrebitkan. Dalam hal ini, penulis akan dihubungi oleh Penerbit Angkasa Bandung. Dari waktu ke waktu, pelaksana lomba dapat menerjemahkan dan menerbitkan sebuah karya dalam bahasa Inggeris.

PERSYARATAN LOMBA

Cerpen
• Tema: Kehidupan modern, termasuk saling keterkaitannya dengan kehidupan tradisional.
• Panjang: 5000 s.d 7.500 kata.

Novel
Tema: bebas.
• Panjang: sekitar 75 ribu kata, tetapi ini tidak ketat dan hanya dimaksudkan sebagai pedoman saja.

PENGIRIMAN KARYA DAN KETENTUAN LAINNYA
• Karya ditulis dalam bahasa Indonesia, berbentuk prosa, dan tanpa catatan kaki.
• Karya harus dikirimkan dalam bentuk soft copy melalui email, satu karya per penulis.
• Karya yang diikutkan dalam lomba belum pernah diterbitkan dalam bentuk apa pun.
• File yang dikirimkan harus menggunakan Microsoft Word, font Calibri ukuran 11.
• Naskah tidak boleh dibubuhi nama dan informasi diri lainnya.
• Nama, alamat email dan nomor telepon penulis hendaklah dikirimkan pada lembaran terpisah.
• Penjurian akan dilakukan oleh staf Program Bahasa dan Kajian Indonesia Deakin dan Pusat Kajian Humaniora UNP.
• Pengumuman pemenang akan dilakukan melalui email dan media sosial.

Hadiah yang disediakan adalah sebagai berikut:
o Cerpen: Hadiah I, Rp 2,5 juta; II, Rp 2 juta; III, Rp 1,5 juta.
o Cerpen pemenang ditambah beberapa cerpen pilihan lain akan diterbitkan dalam kumpulan yang akan diterbitkan oleh Penerbit Angkasa Bandung. Masing-masing penulis akan mendapatkan 5 eksemplar buku pada cetakan pertama.

o Novel: Hadiah I, Rp 5 juta; II, Rp 3,5 juta; III, Rp 2 juta; ditambah 10% cetakan pertama (Jika novel dicetak 3000 eksemplar maka pemenang akan mendapatkan 300 eksemplar).
o Hadiah sudah termasuk honor penerbitan.

o Pemenang Hadiah I cerpen dan novel masing-masing akan menerima Piagam Penghargaan Cerpen dan Novel Terbaik A.A. Navis (A.A. Navis Award). Penyerahan hadiah akan dilakukan dalam suatu acara khusus.
o Pelaksana/Dewan Juri berhak untuk tidak memberikan hadiah tertentu bila perlu.

Keputusan Dewan Juri dan pelaksana lomba bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
Naskah dapat dikirim ke email: aksara.journal@gmail.com dari sekarang: naskah Cerpen paling lambat 30 April 2016 dan naskah Novel paling lambat 31 Mei 2016. Pemenang akan diumumkan 30 Juli 2016. Waktu dan tempat penyerahan hadiah akan diumumkan kemudian.

Sumber: Silaturrahim Sastrawan Sumbar

CONAN, Act 2: The Past

Conan terbaring lemah di atas lantai sebuah penjara yang dingin. Pakaiannya yang terdiri dari kaos, celana, dan jubah coklat usang melekat di tubuhnya. Dan ditemani sepasang pistol semi otomatis yang telah dimodifikasi berwarna hitam yang diletakkan begitu saja di atas lantai di hadapannya. Dia menatap sayu kedua senjatanya itu. Senjata yang selalu digunakan bila dipanggil oleh orang-orang berbaju hitam yang tidak dikenalnya sama sekali, untuk bertarung nanti. Sebuah pertarungan aduan hidup dan mati.

Beberapa jam yang lalu, dia baru saja menyelesaikan sebuah pertarungan gila menghadapi seorang bertubuh besar dan kekar. Itu memang pertarungan yang tidak adil karena dirinya hanya seorang anak yang baru menginjak masa remaja. Dia baru memasuki usia ke-13 sebulan yang lalu. Ultahnya dirayakan dengan pertarungan tentunya.

Biarpun pertarungan itu sudah lama berlalu dengan kemenangan yang didapatkannya, tubuhnya masih merasa lemah. Mungkin efek dari obat doping yang disuntikkan sebelum pertarungan dimulai. Obat itu membuat tubuhnya terasa panas dan juga terasa menambah kekuatannya. Tapi, setelah semua itu berakhir, hanya rasa lelah luar biasa yang tersisa dan luka-luka akibat pertarungan.

Bayang-bayang pertarungan itu juga masih terus terbesit di benaknya membuatnya merasa muak. Apalagi suara sorak-sorai orang-orang yang menyaksikan pertarungannya.­ Dia semakin merasa muak.

Sejak usia 6 tahun, dia sudah masuk ke dunia pertarungan ilegal tak adil ini. Entah karena apa, dia sudah lupa. Yang jelas orang-orang berbaju hitam yang secara pribadi dia sebut sebagai Organisasi Hitam itu, telah membawanya ke dunia mereka. Sejak saat itu, dia diberi berbagai macam obat aneh dan juga latihan serta ikut dalam pertarungan yang bisa sangat mengancam nyawanya biarpun semenjak itu pula dia belum pernah kalah sekali pun. Dia sudah mulai merasa tidak tahan sekarang. Dia ingin berhenti dan keluar dari 'neraka' pertarungan ini. Tapi, bagaimana caranya?

Pintu jeruji terbuka kembali. Seorang pria berbaju hitam yang memiliki rambut perak yang panjang, melangkah masuk menghampiri Conan yang masih terbaring. Conan masih tidak sanggup untuk bergerak sehingga dia cuma melihat saja.

Pria itu berjongkok di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk. Dia mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi cairan aneh di dalamnya dari sakunya. Conan sudah tahu kalau itu adalah obat doping lainnya. Rasa-rasanya dirinya ini bukan cuma sebagai 'hewan' aduan, tapi juga kelinci percobaan. Setelah disuntik obat itu, dia pasti akan langsung dibawa ke arena pertarungan untuk bertarung lagi dengan orang yang tak sebanding dengannya. Tapi, dia sudah tidak tahan.

Aku mau keluar!

Entah tenaga dari mana, dia memukul tangan pria berbaju hitam itu yang sedang memegang alat suntik. Alat suntik itu terlempar dan saat terbanting di lantai, tabungnya pecah. Obatnya tercecer semua.

"Kau!"

Tanpa membuang kesempatan Conan menubruk tubuh pria itu sampai membuat pria itu terhempas. Dia menyambar kedua pistolnya dan berlari keluar dari penjara.

"C-1 kabur! Tutup semua pintu keluar dan tangkap dia! Jangan sampai dia berhasil kabur!" seru pria berambut perak itu.

Conan tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keluar dari tempat mengerikan ini. Orang-orang Organisasi Hitam mulai bermunculan, hendak menangkapnya. Tanpa ada keraguan, dia menembak orang-orang itu. Dia tidak tahu apakah mereka yang ditembaknya itu tewas atau tidak karena saat ini dia tidak memfokuskan arah tembakannya. Dia berprinsip "yang penting kena saja dulu" untuk saat ini walaupun sebenarnya dia bukan orang yang suka membunuh biarpun selama dirinya berada di dunia pertarungan ilegal ini dia selalu membunuh lawannya. Itu pun karena terpaksa sebenarnya. Dia 'kan didesak terus oleh lawannya yang membuatnya mau tak mau harus membunuh lawannya itu.

Alarm berbunyi di mana-mana. Dia terus berlari sambil menembaki orang-orang yang bermaksud menghalanginya.­ Tak lama dia pun menemukan pintu keluar. Pintu keluar itu berada di depan mata sekarang. Selangkah lagi, dia akan keluar dari penjara sekaligus neraka ini. Pintu itu mulai tertutup. Conan mempercepat larinya.

Namun, ketika dia hampir mencapai pintu, dari persimpangan jalan yang ada di dekat pintu itu muncul pria berambut perak tadi. Dia menyambar leher Conan dan menabrakkannya ke dinding. Tidak ada rasa segan-segan. Benturannya sampai membengkokkan dinding yang terbuat dari logam tebal itu.

Dari mulut Conan mengeluarkan darah. Tabrakan itu bisa saja membunuhnya bila dirinya masihlah seorang anak biasa. Tapi, karena dia sudah sering mengalaminya selama bertahun-tahun,­ dia hanya mendapatkan luka dalam yang baginya masihlah tergolong ringan. Dia sudah pernah mendapat yang lebih parah dari itu.

"Mencoba kabur, heh?" tanya pria itu sarkastik.

Conan tidak menjawab. Dia menatap kesal pria itu karena telah berhasil menangkapnya. Tapi, niatnya untuk kabur tidak berkurang sedikit pun. Dia berpikir keras bagaimana caranya meloloskan diri dari pria itu.

Pintu keluar semakin merapatkan celahnya. Conan yang tidak mau terus terjebak di dunia gelap ini, segera bertindak. Dia mencengkeram tangan pria berambut perak itu yang tengah mencekiknya. Cengkeramannya begitu kuat, padahal dia itu sebenarnya sedang dalam kondisi tidak bagus. Tenaga itu muncul begitu saja. Mungkin karena niatnya untuk keluar yang begitu besar, membuatnya mendapatkan kekuatan itu.

Cekikannya melonggar. Dan dengan sekali hempasan, Conan membanting pria itu ke dinding di sebelahnya. Pria itu langsung jatuh terbaring. Setelah itu, Conan kembali berlari menuju pintu keluar. Dia berhasil keluar sesaat sebelum pintunya menutup rapat.

Cuaca di luar sedang hujan. Langitnya begitu gelap karena tertutup oleh awan hitam tebal. Hujan yang sedang turun itu menjadi saksi atas pelarian Conan. Bocah itu terus berlari sampai tenaganya habis. Dia tidak tahu sudah berapa jauh dia berlari.

Di depan sebuah rumah, dia berhenti berlari karena tenaganya sudah habis. Dia pun jatuh pingsan di depan pagar rumah tersebut. Begitu sadar, dia sudah berada di dalam rumah Profesor Agasa.

~Black Virus~

Conan membuka matanya, menatap keluar jendela kamarnya yang telah rusak itu di mana sekarang sedang turun hujan. Cuaca yang sama di saat dirinya berhasil kabur dari Organisasi Hitam dulu. Organisasi yang tidak diketahu nama aslinya itu. Hujan selalu membuatnya teringat dengan kejadian itu.

CONAN, Act. 1 : The Canibal

by. Someone

--

 "Ah, sial! Aku terlambat!"

Dengan roti yang masih di mulut, Conan berlari keluar rumah dengan sangat terburu-buru karena 10 menit lagi masuk sekolah. Setelah melewati pagar, dia meletakkan Sky Board—papan seluncur tanpa roda yang berjalan dengan cara melayang—dan melaju pergi.

Dia terus mengumpat kesal sambil terus mengunyah sarapannya yang hampir tidak sempat dimakan itu. Kalau saja semalam tidak ada pertandingan sepak bola, dia tidak mungkin kesiangan seperti sekarang. Ditambah lagi guru yang mengajar adalah guru killer yang sedang menggantikan wali kelasnya untuk sementara. Hukuman yang diterima bisa bukan cuma berdiri di koridor saja nanti. Pasti ada 'plus-plus'-nya. Kalau membayanginya, jadi merinding.

Conan menghentikan laju Sky Board-nya saat melihat seorang pria berlari keluar rumah dengan ekspresi ketakutan. Di belakangnya seseorang berkepala botak dan berkulit pucat mengejarnya dan menerkamnya dengan sangat sadis. Conan hanya terbelalak pucat menyaksikan pemandangan yang sangat tak lazim lebih dari sekedar pembunuhan.

Makhluk itu memakan korbannya tanpa ampun sampai korbannya itu tak lagi bergerak. Darah dari korban menggenang di jalan dan mengotori mulut makhluk yang sedang memakannya itu. Conan sampai tidak sanggup untuk bergerak saking syoknya dia terhadap pemandangan mengerikan itu.

Makhluk botak itu tiba-tiba menatap Conan yang masih terdiam di tempat. Melihat hal itu, Conan segera balik arah dan ngebut secepatnya untuk kabur. Makhluk botak itu mengejarnya. Dia berlari seperti hewan, menggunakan tangan dan kakinya. Tapi, gerakannya sangat cepat. Dia melompat ke atas tembok pagar, mengejar Conan dari atas pagar.

Conan semakin ngebut. Si makhluk botak berkulit pucat itu kelihatannya akan menerkamnya dari atas.

Benar saja. Makhluk itu melompat ke arah Conan. Berkat refleks yang bagus, Conan berhasil menghindarinya. Makhluk itu jadi menabrak dinding pagar yang ada di seberang. Dia pun tidak lagi mengejar, tapi Conan tidak menurunkan kecepatannya. Conan menghela nafas lega.

"Sebaiknya aku segera melaporkan kejadian ini pada polisi."

Secara terpaksa juga, Conan harus rela tidak masuk sekolah hari ini untuk melapor.

~Black Virus~

Conan turun dari Sky Board-nya setelah tiba di sebuah pos polisi terdekat. Namun, dia merasa aneh. Pos yang biasanya rame oleh suara para polisi yang berjaga di sana, kini tidak terdengar apa-apa.

Dia berjalan mendekati pintu masuk. Ketika menengok ke dalam, dia kembali syok dengan penemuan mayat para polisi yang sudah tidak utuh lagi. Darah para polisi itu berceceran di mana-mana, memenuhi pos polisi yang kecil itu. Dia menduga makhluk botak pucat tadi yang melakukannya.

Dengan panik, Conan menggunakan telepon di pos itu untuk menghubungi markas pusat polisi.

"Halo, polisi..."

~Black Virus~

Polisi datang secepat yang mereka bisa. Mereka segera ke dua lokasi yang diberitahukan Conan. Mereka langsung menutup TKP. Conan yang menunggu di pos polisi, kini sedang memberi kesaksiannya.

"Orang aneh berkepala botak dan berkulit pucat?" Megure, seorang inspektur polisi yang berbadan gendut, yang juga datang ke lokasi kejadian, menatap tidak percaya.

"Iya, orang itulah yang membunuh korban yang ada di daerah perumahan sana. Tapi, yang di sini aku kurang tahu. Tapi, kurasa orang itu juga yang melakukannya karena dia itu 'kan kanibal," jelas Conan, meyakinkan. "Dia juga sempat mengejarku, tapi aku berhasil kabur."

Inspektur Megure beserta beberapa polisi yang juga mendengarnya masih belum terlihat percaya. Conan sudah merasakan firasat buruk kalau sampai seperti ini. Pasti dikira dirinya itu kebanyakan nonton film.

"Kelihatannya kau ini kebanyakan nonton film horor, ya," kata Takagi, polisi yang lain.

Apa yang Conan takutkan terjadi. Para polisi itu tidak akan percaya sampai mereka melihat sendiri makhluk itu. Dia pun tidak punya bukti tentang keberadaannya.

Sekilas Conan kembali melihat makhluk botak itu melesat ke atas atap rumah. Sontak dia langsung berseru sambil menunjuk ke rumah tersebut, "Itu! Orang itu melompat ke rumah itu!"

Mendengar kata 'melompat', membuat para polisi menatap aneh pada Conan. Lagi-lagi mereka tidak mempercayai Conan. Kelihatannya mereka berpikir mana mungin ada orang bisa melompati pagar setinggi lebih dari 2 meter itu.

"Aku berani bersumpah! Orang itu melompat masuk ke rumah itu!" Conan semakin ngotot, tapi itu tidak membuat perubahan pada pemikiran para polisi.

Suara jeritan dari rumah yang ditunjuk Conan, membuat seluruh polisi terbelalak. Mereka semua langsung menuju ke rumah tersebut. Conan juga mengikuti mereka ke rumah itu. Pintu didobrak karena terkunci. Pemandangan mengerikan kemudian menyambut mereka semua. Seorang wanita botak dan berkulit pucat sedang memakan pria pemilik rumah dengan sangat sadis. Kegiatan itu berhenti beberapa saat setelah para polisi masuk.

Wanita itu menggeram marah seperti seekor kucing. Giginya yang runcing dan sudah berlumuran darah, dia pamerkan ke semua orang asing yang masuk itu, memperingati untuk menjauh atau lebih tepatnya pergi.

Conan yang baru masuk, terlihat lebih terkejut lagi. Bukan karena pemandangan mengerikan sekaligus menjijikkan di dalam sana, melainkan karena yang menyerang kali ini adalah wanita. Seingatnya yang ditemuinya pertama adalah seorang pria bertubuh kekar. Conan jadi menduga kalau makhluk seperti itu bukan cuma satu saja. Mungkin lebih banyak dari yang dia bayangkan saat ini.

"Nak, jangan dilihat." Mata Conan tiba-tiba ditutup oleh salah seorang polisi dan tubuhnya diangkat keluar rumah.

Polisi yang membawanya keluar rumah itu adalah seorang polisi wanita berambut pendek yang sudah diketahui namanya, karena Conan paling cepat mendapatkan informasi mengenai kepolisian. Polisi itu bernama Sato.

"Pergilah dari sini sejauh mungkin. Cari tempat yang aman," titah Sato. "Di sini berbahaya."

"Tapi, itu..." Conan ingin mengatakan kalau yang ditemuinya bukanlah yang di dalam rumah, tapi ucapannya disela.

"Cepat pergi!"

THE HELP, Novel Best Seller Setelah 60 kali Ditolak Penerbit

Kathryn Stockett mulai menulis novel yang berjudul The Help pada tahun 2001. lalu Novel tersebut selesai tahun 2006. 

Ia kemudian menawarkan naskahnya ke sejumlah penerbit melalui agen. Ternyata tawaran pertama ditolak. 

Ia mencoba merevisi dan beberapa bulan kemudian menawarkannya lagi pada beberapa agen lain. Hasilnya, masih ditolak. “Setidaknya ada 15 yang menolak,” katanya.


Ia mencoba bertanya pada teman-temannya, kira-kira apa yang membuat novelnya yang bercerita tentang pembantu kulit hitam di keluarga kulit putih tahun 1960-an ini tidak menarik. 

Banyak dari teman-temannhya yang menghibur dan kemudian memintanya menulis novel lain. Padahal, menurut Stockett, ia tak akan membuat novel berikutnya kalau The Help belum diterbitkan.

Setelah itu ia mencoba menawarkannya lagi pada sejumlah agen. Namun masih saja ditolak. Itu berarti ia sudah mendapat 40 kali penolakan. 

Tapi ia tetap bertahan, ia terus bejuang. Ia terus memperbaikinya. Kalau perlu mencari agen atau penerbit baru yang mungkin bersedia menerbitkannya. 

Teman-temannya sudah memberinya nasihat agar tak perlu bergantung pada novel itu. Tapi  Stockett tetap yakin, The Help novel yang bagus dan layak diterbitkan.

Ia kemudian memperbaikinya di sana-sini. Begitu sibuknya dengan draft buku itu, sampai-sampai menjelang kelahiran anak pertamanya ia masih memegang draft. 

Ketika didorong menuju tempat persalinan, seorang perawat memintanya untuk tidak terus menerus membaca. Dan dengan menyesal akhirnya draft itu ia serahkan ke sang suami.

Lima hari setelah kelahiran anaknya, Stockett menginap di hotel dan langsung mengetik untuk memperbaiki The Help. 

Setelah itu ia menawarkan novel itu ke sejumlah agen. “Akhirnya saya mendapat penolakan yang ke-60,” katanya.

Namun tawarannya yang ke-61 mendapat respon baik. Agen yang bernama Susan Ramer, bersedia menawarkan The Help ke penerbit Amy Einhorn Books. 

Lalu pada tahun 2009, akhirnya novel itu terbit dan menjadi novel best-seller di Amerika. 

Novel itu terbit setelah melalui proses lima tahun menulis, tiga setengah tahun mengalami 60 penolakan. 

Kalau kamu baru beberapa kali ditolak penerbit lalu berhenti menulis, belajarlah dari penulis yang satu ini. Penulis yang naskahnya sempat ditolak 60 kali sebelum diterbitkan dan menjadi best seller.

Jika Kathryn Stockett butuh 60 kali penolakan agar naskahnya diterbitkan dan menjadi best seller. Tentu kita tak punya alasan untuk berhenti berkarya sampai karya itu diterbitkan.

Tapi saat ini Karya kita juga bisa diterbitkan secara indie sebagai pengalaman untuk menerbitkan buku. Kirim saja naskahmu ke Story Club Media. Email : lovlindsay@yahoo.co.id. Kami akan membuat ceritamu menjadi abadi.

Sumber Ide Dalam Menulis Cerpen : Mimpi & Lingkungan Sekitar

Tips Cara Membuat Cerpen kali ini seputar cara mengumpulkan Ide cerita. Sebenarnya ide cerita itu ada dimana-mana. Ide tersebut ada pada tubuh kita, di kepala, di badan, di tangan, di kaki. Ide ada pada segala sesuatu yang kita lihat, yang kita dengar, dan yang kita rasakan dapat menjadi ide cerita yang menarik.

Dengan mengetahui ini maka anda akan tahu cara menulis cerpen, apapun jenisnya, dengan mengalir. Misalnya anda ingin menulis cerita fiksi, anda bisa menggali ide hanya dari satu benda, batu, misalnya.

Inti dari mencari inspirasi pada benda, kejadian atau apapun yang ada di sekitar kita adalah dengan menulisnya. Tulislah ide anda segera setelah ia melintas di benak anda. Anda dapat menuliskan:

1. Kejadian di dalam mimpi. Misalnya mimpi menemukan harta karun.

2. Hal lucu yang terjadi di sekolah. Misalnya alas meja bolong-bolong kena api rokok sang guru perokok.

3. Hal menarik dan unik lainnya yang Anda jumpai di dalam ataupun diluar rumah. Misalnya, layang-layang putus dan nyangkut di antena TV pak lurah dan pak lurah pun marah.

4. Kata atau kalimat unik yang tidak sengaja terdengar atau terpikirkan. Contohnya: Angin sepoi-sepoi yang bikin asoi,  Marah tak tertahan ketika aku jengah, Malu-malu tapi mau.

Intinya adalah banyak-banyaklah mengumpulkan ide kapan saja dan dimana saja. Setelah ide banyak terkumpul di buku catatan, kini anda dapat menyirami benih-benih itu dan melihatnya tumbuh bersemi dengan mengaitkan satu dan lain ide yang ada.

Thursday, 14 April 2016

Tentang Aku

Aku Lindsay Lov'

Itu nama penaku.
Akun Facebook-ku : Lindsay Lov
Akun Twitter-ku : @LlindsayLov
Akun WhatsAp-ku : 0857.6066.9075
Akun Wattpatku : LindsLov
Akun Storial.co-ku : Lindsay Lov
Akun SiPenulis-ku : Lindsay
Akun Novel.id-ku : Lindsay_Lov
Email gmail-ku : lindsaydanish@gmail.com
Email yahoo-ku : lovlindsay@yahoo.co.id
Novel Pertamaku : KNIFE, Teror di sekolah.
Novel Keduaku : Antologi Boneka Kuntilanak.
Fanspage-ku : Story Club di Facebook
Dan ...
Aku mengelola Penerbitan Indie : Story Club Media di Facebook.
Kalau mau tanya-tanya soal menerbitkan buku atau novel di SC Media, silahkan
kunjungi aku di Facebook atau WA saja.